Keberadaan yang tidak dirasakan !!!

By: M. Herry Wirawan

Maukah kita jadi kambing conge? yang tak mengerti akan arti dirinya sendiri, yang tak peduli akan ketidakadilan yang terjadi, yang tak paham akan kebijakan yang menimbulkan kesengsaraan, yang tak sadar bahwa dirinya telah menjadi korban penindasan akibat kekuasasn yang memihak beberapa golongan. Tentu kita jawab dengan tegas “Tidakkk….!!!”
Namun, anehnya sikap serta pemikiran kita seringkali tidak menunjukan keinginan untuk memupuk pemikiran, meningkatkan kesadaran dan memberikan kontribusi yang baik terhadap keadaan dilingkungan sekitarnya.
Pergulatan pemikiran, penanaman ideologi, intervensi kebijakan, fenomena bencana alam, wacana publik tentang terorisme, penutupan kebenaran dengan orientasi kekuasaan, serta berbagai hal yang terjadi disekitar kita terkadang tidak pernah mau untuk kita mengerti atau kita peduli terhadap keadilan dan kebenaran dibalik kejadian tersebut. Yang paling ironisnya lagi, kita malah masih disibukan dengan hal-hal yang penuh dengan orientasi yang tak berarti dan menjadi korban akan pengaruh westernisasi, hedonisme, matrealistis serta berbagai hal lainnya yang hanya memperlihatkan pencitraan dari luar saja tanpa memiliki karakter yang berintelektual dan menyandarkan dirinya kepada keimanan yang sebagaimana mestinya.
Pernahkah kita mengerti bahwa detik-detik yang telah terlampaui tak akan pernah mampu untuk kita ulangi atau kita jangkau kembali. Pernahkah kita sadari sejauhmana diri ini mampu mengeksplorasi hari-hari yang penuh dengan potensi untuk menciptakan kreasi serta memberikan mamfaat bagi diri kita pribadi, keluarga dan masyarakat dilingkungan kita.
Kita mampu dihargai oleh orang lain, karena memiliki potensi akan akal dan juga hati. Sedangkan keberadaan kita bisa dirasakan disaat kita mempunyai kemampuan dan memberikan bantuan kepada keadaan disekitarnya. Dilingkungan perkuliahan, keorganisasian, kemasyarakatan, dll, semua tidak terlepas dari bagaimana tata cara kita didalam bersosialisasi dan memamfaatkan moment yang kita miliki.
Disaat retorika kita terbata-bata dan terkesan mengada-ngada bagaimana orang lain bisa mengakui dan menurutinya. Dikala bicara hanya mampu menghina dan memunculkan ego dirinya semata bagaimana orang lain bisa percaya dan menghargainya. Disinilah kita dituntut untuk mampu bersosialisasi dan menggali potensi diri lewat kegiatan kajian dan aktivitas organisasi.
Apakah gak bosan? apakah gak BeTe? Apakah gak malu? Seandainya kita mengalami proses belajar atau rapat yang hanya bisa datang, duduk, diam, denger, lalu pergi tanpa memberikan kontribusi dan aplikasi yang berarti untuk pertemuan yang dilakukan. Bahkan yang paling mengecewakan adalah kita mampu berbicara lantang serta menghina orang lain, seandainya telah tiba pembagian keuntungan atau hasil yang akan didapatkan dengan menuntut hak yang disamakan dan berorientasi terhadap kesenangan.
Kita bukan patung yang hanya bisa dilihat tanpa memberikan perubahan yang diharapkan, kita bukan kambing yang harus selalu digembalakan dan pasrah pada keadaan yang menyakitkan, kita bukan anjing gila yang dibenci orang lain, karena menggonggong kesana-kemari hanya untuk dirinya sendiri.
Kita adalah manusia, kita adalah mahasiswa dan kita ini adalah makhluk beragama. Jangan mau terkontaminasi oleh keadaan yang mengkhawatirkan. Bangunlah potensi diri untuk mengkritisi setiap keganjilan yang kau temui. Sehingga keberadaan kita mampu dirasakan dan kontribusi kita mampu merubah dunia kejalan yang lebih bercahaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: