Kegagalan Sistem Pendidikan Indonesia

by:  M. Herry Wirawan
Proses pendidikan atau lebih tepatnya pembelajaran yang terjadi di sekolah selama ini sangat jauh dari praktik pembelajaran yang manusiawi, yang sesuai dengan cara belajar alamiah kita. Konsep ”belajar” yang diterapkan telah sangat usang dan merupakan warisan dari jaman agraria dan industri. Bahkan negara kita sudah sering berkiblat kepada sistem pendidikan negara-negara lain yang ternyata tidak pernah membawakan hasil yang efektif dan efisien didalam menciptakan kader-kader bangsa yang benar-benar diharapkan oleh dunia kerja atau masyarakat luas pada umumnya.
Coba kita cermati bagaimana sistem pendidikan Indonesia itu sendiri didalam mencetak siswa-siswinya. Perjuangan dalam tiga tahun hanya berorientasi pada keberhasilan selama 3/4 hari. Bagaimana tidak, keberhasilan didalam menghadapi yang namanya Ujian Nasional (UN) sudah menjadi prioritas yang paling utama bagi para siswa dan juga staff pengajar di hampir semua sekolah. Bahkan yang paling ironisnya ada kepala sekolah yang dijadikan tersangka pencurian soal, terjadi jual beli ilegal jawaban soal ujian bahkan yang paling kasihan siswa yang telah dinyatakan lulus PMDK juga bisa dikatakan berprestasi dikelasnya masih banyak yang malah gagal menghadapi UN. Sehingga harus mengulang belajar satu tahun lagi atau mengikuti ujian persamaan paket C. Pertanyaannya apakah UN merupakan penilaian yang objektif?
Untuk kondisi pada saat ini, ujian adalah suatu cara untuk mengetahui kecepatan mengingat kembali (recall), suatu informasi yang telah dihapal sebelumnya (register), dan menggunakan (apply) informasi yang telah diingat kembali untuk menjawab soal ujian, bukan menjawab persoalan hidup. Singkatnya, ujian saat ini hanyalah menguji kemampuan menghapal. Celakanya, sekolah tidak mengajarkan anak didik teknik, cara, metode, atau strategi menghapal yang baik dan benar, yang sesuai dengan cara kerja otak dan pikiran dalam menyerap informasi.
Seringnya terjadi pergantian kurikulum ternyata tidak membawakan hasil yang cukup nyata. Indonesia selalu saja mencoba mengikuti dan meniru sistem pendidikan diluar negeri lalu hasilnya terkesan tidak efektif dan efisien (“Try and Erorr”). Pemerintah seakan-akan tidak bercermin pada kebutuhan dan kondisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Jumlah siswa dalam satu kelas masih banyak yang lebih dari 40 orang siswa, kualitas para pengajar masih minim, teknologi serta fasilitas masih belum memadai, biaya pendidikan dinegara kita masih tergolong sangat mahal sehingga tingkat pendidikan pun tidak merata dan tidak dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Akibat dari ketidakpuasan beberapa lembaga pendidikan terhadap sistem pendidikan Indonesia. Hari ini banyak sekolah-sekolah yang menyatakan bahwa sekolah tersebut memakai standar internasional bahkan ada sekolah yang menggunakan sistem pendidikan dari negara lain baik itu singapura, malaysia dll. Sehingga tidak heran apabila ada lembaga pendidikan yang setaraf SD namun SPP dan biaya pendidikannya bisa mencapai lebih dari 4 juta per semester. Dengan kondisi seperti itu, tentunya akan membuat yang baik makin baik dan yang buruk menjadi semakin terpuruk. Lalu bagaimana peran pemerintah didalam menetapkan standarisasi pendidikan serta merangkul seluruh masyarakat agar mampu mendapatkan pendidikan yang layak dan baik sebagaimana yang senantiasa selalu tercantum didalam UUD`45. Ataukah pemerintah akan tetap membiarkan libelarisasi pendidikan terjadi, sehingga tidak adanya pemerataan kualitas dan kuantitas pendidikan lagi.
Jika kita tanya apa tujuan mereka menempuh jenjang pendidikan formal SD sampe SMA lalu Perguruan Tinggi. Pasti walaupun dengan alasan yang berbeda-beda, mereka seringkali menjawab agar tidak menjadi orang pengangguran atau ingin cepat mendapatkan pekerjaan yang pantas dan sesuai dengan keinginan mereka. Sistem pendidikan di Indonesia memang berusaha mencetak orang-orang yang bisa bekerja menjadi karyawan, bawahan atau pelamar pekerjaan pada beberapa instansi. Tetapi kenapa pendidikan tidak berusaha mencetak orang-orang kreatif yang bisa mengeksplor potensi diri dan menciptakan lapangan kerja sendiri?. Namun walaupun begitu pada kenyataannya tetap saja tidak bisa disangkal ternyata jumlah pengangguran yang ada di Indonesia pada saat ini sudah demikian sangat banyak, bahkan 500.000 orang diantaranya adalah sarjana. Nah… ini lah saatnya kita bilang Tanya Kenapa? Kenapa bisa begini? Lalu kita harus bagaimana? Sebenarnya input, proses dan output yang diciptakan oleh sistem pendidikan di Indonesia harus perlu dibenahi kembali agar yang citakan-citakan lembaga pendidikan memang benar-benar mampu menjawab tantangan zaman serta berbagai kebutuhan dunia kerja dan masyarakat.
Pendidikan seharusnya lebih membimbing dan memperhatihan kebutuhan siswa secara keseluruhan. Bukan hanya IQ nya saja. Tetapi EQ dan SQ nya pun jangan sampai ketinggalan. Kebutuhan otak kiri, otak kanan, otak besar dan otak kecil semuanya harus mampu dikemas dan dipupuk sedemikian rupa. Begitupun dengan kemampuan Kognitif, Afektip, dan Pisikomotorik siswa harus senantiasa diperhatikan dan dibuat indikator-indikator yang jelas didalam penilaiannya. Sehingga kejadian meninggalnya siswa SD karena penganiayaan temannya, kasus IPDN yang menelan banyak korban, tawuran para pelajar yang sering terjadi, pertikaian dan sikap anarkis mahasiswa di berbagai kota yang terjadi pada saat ini akan bisa lebih diminimalisir lagi.
Oleh sebab itulah, mari kita selalu tingkatkan potensi diri diberbagai wadah organisasi dan harus juga selalu mencermati keadaan disekitar kita. Jangan sampai anggaran untuk pendidikan malah diselewengkan oleh pihak yang punya kepentingan golongan. Dan jangan biarkan diri kita menjadi korban keterpurukan pemikiran yang selalu terbelenggu dengan jenjang dan lembaga pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: