Keheregogenan Kultur kearah Produktivitas yang luhur

Tak dapat diungkiri bahwa HMI dalam berbagai hal tertentu memang tak ubahnya seperti miniatur Indonesia. Satu nama dalam HMI namun berbagai karakteristik nampak jelas ternaungi didalamnya. Ke-Heterogen-an itu tentunya dapat berdampak pada percepatan kearah yang positif atau mungkin yang lebih sering malah mampu berdampak pada perpecahan serta stigma negatif diantara internal maupun eksternal HMI. Ekspektasi kader dari awal, berbagai basic lingkungan serta orientasi kepentingan yang ada itulah memang yang sering mencitrakan berbagai pola pikir dan pola gerak yang beranekaragam di HMI. Ditambah lagi dengan berbagai kondisi yang memaksa kita untuk menyusun STRATAK dalam merealisasikan RAK, Kofercab, Musda, Kongres, dll agar sesuai dengan harapan dan keinginan pihak tertentu.

Begitupula dengan HMI Cabang Cianjur, nampak jelas seandainya kita mau memetakannya dengan kaca mata yang subjektif berdasarkan komunitas komisariat. Akan nampak jelas bahwa komisariat UNPI, UNSUR, dan STAIS Al-Azhari punya karakteristik dan kecenderungan yang berbeda. Dalam hal ini, yang tentunya perlu disikapi adalah membuat perbedaan itu menjadi sinergi, mengondisikan kader HMI dalam suatu arah gerak yang mampu dipertanggungjawabkan dan berbagai program serta tindakan tentunya harus mencoba untuk mengejawantahkan cita-cita membumikan nilai luhur dari visi organisasi.

Perbedaan yang ada harus disiasati dengan jalan komunikasi yang baik sehingga ego golongan mampu diredam serta kemampuan untuk memahami mampu ditingkatkan dalam sebuah tujuan menggapai HMI yang lebih solid kokoh dan tentunya berkarakter. Hal yang perlu ditekankan adalah bukan apatis dengan sosok seseorang tapi mampu mengkoordinasikan tugas dan wewenang yang sesuai dengan proporsinya. Bukan di marginalkan, atau bukan pula memarginalkan diri sendiri sehingga terkesan eklusif mencoba menjaga jarak yang lebar karena kekecewaan. Tapi pemimpin yang baik harus mampu menyiapkan track, koordinasi serta solidaritas yang kokoh, sehingga seburuk-buruk nya pemimpin tetap saja harus mampu mengambil keputusan yang tegas dalam menyikapi kebengkokan kadernya, sekalipun tentunya kekecewaan ataupun konsekuensi logis yang tidak kecil menjadi sebuah keniscayaan dalam mengambil keputusan.

Lalu pertanyaannya bagaimana dengan kepentingan berbagai pihak terhadap kendaraan HMI, baik itu internal maupun eksternal harus seperti apa? Semua pihak, semua orang tidak terkecuali pasti punya kepentingan, hanya saja ada yang menimbulkan efek buruk untuk orang lain dan ada pula yang menularkan efek yang baik bagi banyak pihak. Walaupun penilaian kita akan menjadi relatif namun tetap kita punya pegangan visi organisasi serta landasan AD/ART yang dapat memagari berbagai kepentingan terhadap kendaraan HMI tersebat.

Kepentingan yang sering kali disoroti biasanya berhubungan dengan godaan dunia. Dimana yang sering kita kenal dengan harta, tahta, dan Wanita. Sehingga hegemoni pada berbagai pengurus maupun anggota HMI terkadang dijadikan salah satu jalan untuk melengkapi usaha menggapai tujuannya itu. Disini kata kunci untuk menyikapi kepentingan dari pihak eksternal adalah skala prioritas HMI, tentunya dengan pemikiran dan tata cara yang etis sehingga tidak kehilangan subtansi perjuangan HMI atau terkesan pragmatis-hedonis. Lalu bagaimana dengan kader HMI yang dihegemoni oleh kebutuhan pribadinya sendiri? Nah… disinilah peran proses pembinaan anggota HMI. Ingat : “tujuan mengejar dunia akan sangat jauh berbeda dengan tujuan mengejar selain dunia”. Lalu ada apa dengan NDP? Apakah hanya sebatas diketahui dan disampaikan kembali dengan tujuan mengaktualisasikan dirinya bahwa dirinya lebih tau.. atau malah semakin mempertegas karakter para pengurus dan pemateri yang senantiasa underestimate pada pemikiran dan konsepsi kader HMI termasuk pada pemahaman orang lain.. Bukankah yang tau tanpa mengaplikasikannya seperti itu nilainya Nol besar bahkan bisa berakibat nilainya menjadi min (-) atau lebih buruk dari yang tidak tau sama sekali.

Disinilah fungsi kajian teologi, dan proses pembinaan di HMI dimana nantinya akan berimbas pada implementasi keberbagai arah dengan efek luar biasa dan tentunya bukan malah menjadi kontra produktif dalam pembangunan karakter keislaman. Termasuk para pengurus tidak semestinya malah terlalu fokus dan dimanjakan oleh konstalasi politik yang penuh dengan warna tanpa menyeimbangkan kondisi pengkaderan yang terlupakan. Penulis sadari bahwa tidak akan pernah cukup pembahasan berjam-jam apalagi menjadikan lembaran kertas ini sebagai media menampung penilaian kita mengenai kondisi HMI yang sungguh menarik untuk diskusikan.

Namun semakin sering penulis dengan kawan-kawan berdiskusi, semakin sering juga kita mengevaluasi kinerja HMI dan mengkritik diri sendiri akan kontribusi terhadap HMI. Akhirnya dengan harapan melakukan perubahan, kita tidak cukup hanya beretorika dan berwacana saja. Namun harus ada usaha untuk mencoba langsung bergerak mengusahakan untuk adanya perubahan. Dan akhirnya berawal dari ini semua, sepertinya dengan penuh semangat kita harus menyuarakan yakusa dan bergerak sekuat tenaga dalam memperbaiki HMI Cabang Cianjur agar menjadi lebih baik lagi.

Kau mengangkatku, aku mengangkat mu, dan mari kita bangkit bersama-sama….

By:

Ketua Umum HMI Cabang Cianjur periode 2009-2010 (tulisan sebelum menjadi ketum)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: